Artikel
Loading...

MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING

A. Pengertian 

 Pembelajaran Berbasis Masalah berasal dari bahasa Inggris Problem Basic Learning adalah suatu pendekatan pembelajaran yang dimulai dengan menyelesaikan suatu masalah, tetapi untuk menyelesaikan masalah itu mahasiswa memerlukan pengetahuan baru untuk dapat menyelesaikannya. Menurut Suradijono ( 2004) PBL adalah metode belajar yang menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam mengumpulkan dan mengintegrasikan pengetahuan baru. 

Sedangkan menurut Boud & Felleti (1991, menyatakan bahwa “Pembelajaran berbasis masalah adalah cara kontruksi dan kursus pembelajaran berbasis masalah yang memberikan umpan balik dan Fokus dengan pembelajaran siswa” Konsep inovasi pendidikan (Harsono, 2004): , 

1. Mahasiswa memperoleh pengetahuan dasar (basic sciences) yang berguna untuk memecahkan masalah-masalah keteknikan yang dijumpainya. 
2. Student-centered: mahasiswa belajar secara aktif dan mandiri (sebagai adult learner) dengan sajian materi terintegrasi (horisonal dan vertikal) dan relevan dengan real setting (profesionalisme) 3. Mahasiswa mampu berpikir kritis, mengembangkan inisiatif. 

 Pendekatan Pembelajaran Berbasis Masalah dapat pula dimulai dengan melakukan kerja kelompok antar siswa. Siswa menyelidiki sendiri, menemukan permasalahan, kemudian menyelesaikan masalahnya dibawah petunjuk fasilitator (guru). Pendekatan Pembelajaran Berbasis Masalah juga dapat mengubah pola proses belajar-mengajar tradisional dimana sebuah proses yang memberikan topik demi topik kepada siswa sehingga mereka terjadi proses asimilasi dan akomodasi bagian demi bagian pengetahuan untuk membantu siswa sampai ia menjadi profesional dalam bidang tertentu. Pendekatan pembelajaran tradisional seperti ini kurang efektif, mengingat perkembangan pengetahuan semakin banyak dan semakin kompleks sehingga semakin sukar untuk memilih materi mana yang harus diberikan kepada siswa. 

Pendekatan Pembelajaran Berbasis Masalah menyarankan kepada siswa untuk mencari atau menentukan sumber-sumber pengetahuan yang relevan. Pendekatan Pembelajaran berbasis masalah memberikan tantangan kepada siswa untuk belajar sendiri. Dalam hal ini, siswa lebih diajak untuk membentuk suatu pengetahuan dengan sedikit bimbingan atau arahan guru sementara pada pembelajaran tradisional, siswa lebih diperlakukan sebagai penerima pengetahuan yang diberikan secara terstruktur oleh seorang guru. Pendekatan Pembelajaran Berbasis Masalah membuat siswa bertanggung jawab pada pembelajaran mereka melalui penyelesaian masalah dan melakukan kegiatan inkuiri dalam rangka mengembangkan proses penalaran. 
 Pembelajaran dengan pendekatan pembelajaran berbasis masalah lebih menempatkan guru sebagai fasilitator dari pada sebagai sumber. 

B. Karakteristik 

Pembelajaran Berbasis Masalah Pendekatan Pembelajaran Berbasis Masalah memiliki karakteristik-karakteristik sebagai berikut: 

 1. belajar dimulai dengan suatu permasalahan
 2. memastikan bahwa permasalahan yang diberikan berhubungan dengan dunia nyata siswa,
 3. mengorganisasikan pelajaran di seputar permasalahan, bukan di seputar disiplin ilmu, 
4. memberikan tanggung jawab sepenuhnya kepada siswa dalam mengalami secara langsung proses belajar mereka sendiri 
5. menggunakan kelompok kecil, dan 
 6. menuntut siswa untuk mendemonstrasikan apa yang telah mereka pelajari dalam bentuk produk atau kinerja (performance). 

Pada pendekatan pembelajaran berbasis masalah siswa dituntut untuk melakukan pemecahan masalah-masalah yang disajikan dengan cara menggali informasi sebanyak-banyaknya, kemudian dianalisis dan dicari solusi dari permasalahan yang ada. Solusi dari permasalahan tersebut tidak mutlak mempunyai satu jawaban yang benar, artinya siswa dituntut pula untuk belajar secara kreatif. Siswa diharapkan menjadi individu yang berwawasan luas serta mampu melihat hubungan pembelajaran dengan aspek-aspek yang ada dilingkungannya. 
 Dalam ruang lingkup pembelajaran berbasis masalah. Siswa berperan sebagai seorang profesional dalam menghadapi permasalahan yang muncul, meskipun dengan sudut pandang yang tidak jelas dan informasi yang minimal, siswa tetap dituntut untuk menentukan solusi terbaik yang mungkin ada. Pendekatan pembelajaran berbasis masalah membuat perubahan dalam proses pembelajaran khususnya dalam segi peranan guru. Guru tidak hanya berdiri di depan kelas dan berperan sebagai pemandu siswa dalam menyelesaikan permasalahan dengan memberikan langkah-langkah penyelesaian yang sudah jadi melainkan guru berkeliling kelas memfasilitasi diskusi, memberikan pertanyaan, dan membantu siswa untuk menjadi lebih sadar akan proses pembelajaran. 

 Departemen Pendidikan Nasional (2003), ciri utama pembelajaran berbasis masalah meliputi: 
1. mengorientasikan siswa kepada masalah atau pertanyaan yang autentik. Multidisiplin 
2. menuntut kerjasama dalam penyelidikan
3. menghasilkan karya. Dalam pembelajaran berbasis masalah situasi atau masalah menjadi titik tolak pembelajaran untuk memahami konsep, prinsip dan mengembangkan keterampilan memecahkan masalah Pembelajaran berbasis masalah membuat siswa menjadi pembelajar yang mandiri, artinya ketika siswa belajar, maka siswa dapat memilih strategi belajar yang sesuai, terampil menggunakan strategi tersebut untuk belajar dan mampu mengontrol proses belajarnya, serta termotivasi untuk menyelesaikan belajarnya itu . 

Dalam pembelajaran berbasis masalah siswa memahami konsep suatu materi dimulai dari belajar dan bekerja pada situasi masalah (tidak terdefinisi dengan baik) atau open ended yang disajikan pada awal pembelajaran, sehingga siswa diberi kebebasan berpikir dalam mencari solusi dari situasi masalah yang diberikan. 

 Di sini akan timbul beberapa perubahan baik paradigma maupun implementasinya: 
1. Dosen sebagai fasilitator,
2. Perubahan format kurikulum, misalnya Fakultas Kedokteran UGM menerapkan system blok dengan total 23 blok di mana tahun pertama sampai tahun ketiga masing-masing terdiri atas 6 blok/tahun. Tiap blok terdiri atas kelompok bidang ilmu yang saling berintegrasi atau saling berkopetensi yang dapat dipakai untuk menyelesaikan problem real yang dijadikan topik dalam PBL, 3. Penyediaan fasilitas pembelajaran (fasilitator menyediakan buku bahan ajar atau tutorial), 
4. Penyediaan sumber belajar (perpustakaan, internet), 
5. Penataan kembali jadwal pembelajaran 

Dalam pembelajaran berbasis masalah dibutuhkan : 
 •  Permasalahan atau tugas (triggering problem/question)
 • Tidak mempunyai struktur yang jelas sehingga mahasiswa terdorong untuk membuat sejumlah hipotesis dan mengkaji berbagai kemungkinan penyelesaian masalah. Permasalahan yang kurang berstruktur ini sebaiknya dirancang oleh pengajar/tutor, agar mahasiswa termotivasi dan berkesempatan untuk secara bebas mencari informasi sebanyak mungkin dari berbagai sumber
 • Cukup kompleks dan ambigu sehingga mahasiswa terdorong untuk menggunakan strategi-strategi penyelesaian masalah dan keterampilan berpikir yang tinggi seperti melakukan analisis dan sintesis, evaluasi, dan pembentukan pengetahuan/pemahaman baru. 
• Bermakna dan ada hubungan dengan kehidupan nyata mahasiswa, sehingga mereka termotivasi untuk mengarahkan dirinya sendiri dan menguji pengetahuan/pemahaman lama mereka dalam menyelesaikan tugas tersebut. Karakteristik kelompok 1. Dibagi secara acak 2. 5-8 orang 3. Heterogen (latar belakang maupun kemampuan) Sumber belajar Bahan bacaan atau informasi dari nara sumber yang dapat dijadikan acuan bagi mahasiswa dalam menyelesaikan tugas atau permasalahan. 

Karena bentuk tugas akan memancing beragam pemikiran, maka sumber belajar yang tersedia juga diharapkan cukup bervariasi dan dalam jumlah yang memadai. Waktu kegiatan Disesuaikan dengan beban kurikulum yang hendak dicapai. Setiap pengajar memiliki kebijakan sendiri dalam menyusun waktu kegiatan yang akan dilaksanakan. 

C. Langkah-langkah 

Kegiatan PBL Pendekatan pembelajaran berbasis masalah dilaksanakan oleh guru dengan langkah-langkah sebagai berikut:
 1. Persiapan: menyusun masalah yang akan dijadikan titik pangkal (starting point) pembelajaran. Masalah dipilih yang penting dan relevan bagi siswa, serta membutuhkan penerapan gagasan atau tindakan yang terkait dengan atau mengarah pada bahan pelajaran. 
2. Orientasi (pengenalan): a. menyajikan masalah di kelas. b. Membangkitkan ketertarikan atau rasa ingin tahu siswa pada masalah. c. Memberi kesempatan kepada siswa untuk memahami situasi atau maksud masalah. 
3. Eksplorasi (penjelajahan): Memberi kesempatan kepada siswa untuk memecahkan masalah dengan strategi yang diciptakan sendiri oleh siswa. Masalah boleh dipecahkan siswa secara pribadi atau dalam kerjasama dengan siswa lain. Guru memberi dukungan bagi usaha mereka, misalnya dengan menjadi pendengar yang penuh perhatian atau memberi bantuan atau saran sejauh diperlukan. 
4. Negosiasi (perundingan): Mendorong para siswa untuk mengkomunikasikan dan mendiskusikan proses dan hasil pemecahan masalah, sehingga diperoleh gagasan-gagasan atau tindakan-tindakan yang dapat diterima oleh komunitas kelas. 
5. Integrasi (pemaduan): a. memandu siswa untuk merefleksikan proses pemecahan masalah. b. Mengidentifikasi dan merumuskan hasil-hasil belajar yang diperoleh dari kegiatan pemecahan masalah. c. Mengkaitkan hasil-hasil belajar itu dengan pengetahuan sebelumnya, sehingga tersusun jaringan/organisasi pengetahuan yang baru. 

D. Peran Tutor/Narasumber 

Selama berlangsungnya proses belajar dalam PBL mahasiswa akan mendapat bimbingan dari narasumber atau fasilitator, tergantung dari tahapan kegiatan yang dijalankan. 
Peran Narasumber dalam Pembelajaran Berbasis Masalah 
1. Menyusun 
 2. Sebagai sumber pembelajaran untuk informasi yang tidak ditemukan dalam sumber pembelajaran bahan cetak atau elektronik, 
3. Melakukan evaluasi hasil pembelajaran Peran Fasilitator Secara umum peran fasilitator adalah memantau dan mendorong kelancaran kerja kelompok, serta melakukan evaluasi terhadap efektivitas proses belajar kelompok. 

Secara lebih rinci peran fasilitator adalah: 
1. Pada pertemuan pertama, mengatur kelompok dan menciptakan suasana yang nyaman. 
2. Memastikan bahwa sebelum mulai setiap kelompok telah memiliki seorang anggota yang bertugas membaca materi keras-keras, sementara teman-temannya mendengarkan, dan seorang anggota yang bertugas mencatat informasi yang penting sepanjang jalannya diskusi.
 3. Memberikan materi atau informasi pada saat yang tepat, sesuai dengan perkembangan kelompok.
 4. Memastikan bahwa setiap sesi diskusi kelompok diakhiri dengan self-evaluation. 
5. Menjaga agar kelompok terus memusatkan perhatian pada pencapaian tujuan.
 6. Memonitor jalannya diskusi dan membuat catatan tentang berbagai masalah yang muncul dalam proses belajar, serta menjaga agar proses belajar terus berlangsung, agar tidak ada fase dalam proses belajar yang dilewati atau diabaikan dan agar setiap fase dilakukan dalam urutan yang tepat. 
7. Menjaga motivasi mahasiswa dengan mempertahankan unsur tantangan dalam penyelesaian tugas dan juga memberikan pengarahan untuk mendorong mahasiswa keluar dari kesulitannya.
 8. Membimbing proses belajar mahasiswa dengan mengajukan pertanyaan yang tepat pada saat yang tepat. 
Pertanyaan-pertanyaan ini hendaknya merupakan pertanyaan terbuka yang mendorong mereka mencari pemahaman yang lebih mendalam tentang berbagai konsep, ide, penjelasan, sudut pandang. 
9. Mengevaluasi kegiatan belajar mahasiswa, termasuk partisipasinya dalam proses kelompok. Pengajar perlu memastikan bahwa setiap mahasiswa terlibat dalam proses kelompok dan berbagi pemikiran dan pandangan, 
10. Mengevaluasi penerapan PBL yang telah dilakukan.
Share on Google Plus

About Unknown

Salam Bahagia dan Salam Sejahtera untuk semua User di Media Sosial ....dari Sahabatmu Ties Sutisna....Ciawigebang Kuningan Jabar ...OK...Good Luck!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar :

Posting Komentar