Menulis sebagai Media Pengembangan Imajinasi
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia cetakan ke-3, kata imajinasi bermakna daya pikir untuk membayangkan (dalam angan-angan) atau menciptakan gambar (lukisan, karangan, dan sebagainya) kejadian berdasarkan kenyataan atau pengalaman seseorang. Masih menurut sumber yang sama, imajinasi juga bermakna “khayalan”. Mengembangkan imajinasi berarti memproses daya pikir (angan-angan) dan khayalan menjadi nyata dan berkembang seperti benar-benar berada di depan mata.
Dalam buku “Menulis dengan Emosi”, Carmel Bird pernah mengutarakan kiat agar tulisan kaya imajinasi. Berikut petikan tulisannya yang merupakan balasan surat untuk Virginia, “Dunia imajinasi dibangun dari hal-hal yang kita temukan dalam dunia keseharian.
Robin Klein mengatakan bahwa setiap hari dia mendaftar setidaknya lima hal yang dia lihat, dengar atau alami pada hari itu. Dari bahan mentah hal-hal dalam hidupnyalah, dia memulai membangun karya-karya imajinasi” (2001:96).
Menjaring imajinasi melalui pikiran, mengikatnya, kemudian menuliskannya kembali dalam untaian kalimat adalah sebuah pekerjaan yang membutuhkan kreativitas. Dalam KBBI kata kreativitas dimaknai sebagai kemampuan seseorang untuk menciptakan daya cipta. Daya cipta di sini dapat diartikan sebagai gagasan atau ide. Orang yang kreatif artinya orang yang selalu memiliki ide atau gagasan baru yang menggugah.
Berbicara tentang kreativitas dalam menulis dan imajinasi yang berkualitas, maka akan merujuk pada sosok spesial yang memiliki semua aspek tadi, yaitu anak-anak.
Menurut Joni Lis Efendi dalam “Dirimu Harta Karun yang Tak Ternilai” dijelaskan bahwa anak-anak adalah sosok yang memiliki segudang kreativitas dan imajinasi. Jika diperhatikan, anak-anak cenderung cepat bosan dengan mainan yang mereka miliki. Artinya dalam waktu yang relatif singkat, seorang anak telah mampu mengembangkan imajinasi dan kreativitasnya tentang mainan tersebut (2004:46).
Berkaitan dengan tulisan anak-anak, Deporter dan Hernacki, penulis buku “Quantum Learning” memuji kemahiran menulis anak-anak. ‘ ...anak-anak adalah penulis alamiah yang masih polos yang selalu mempunyai sesuatu untuk dikatakan. Apa yang mereka tulis kerap sekali begitu segar dan mendalam. Tulisan mereka dapat membuat orang-orang di sekitar mereka melihat segala sesuatu dengan cara yang tidak pernah menyerah dan pernah menganggap gagasan mereka bodoh, kurang pas, atau tidak layak. Selalu ada perjuangan bagi anak kecil yang lugu itu’ (Efendi,2004:47-48).
Menulis surat (korespondensi) adalah salah satu media terapi imajinasi dan kreativitas anak. Imajinasi anak akan berkembang ketika dia membayangkan sosok sahabat pena yang berada jauh di pelosok nusantara. Mereka pun bisa berkreasi dengan kreativitas tidak terhingga mereka bagaimana caranya agar sahabat pena mau membalas surat atau bagaimana cara agar dapat menambah sahabat pena yang baru.
0 komentar :
Posting Komentar